Monday, February 6, 2017

Farewell Letter

Hmm, kalian pernah kepikiran gak buat resign dari perusahaan tempat kalian kerja saat ini? Aku pernah. Dengan berbagai pertimbangan dan alasan yang bersifat pribadi, aku ambil keputusan itu. Keluar dari zona nyaman, yang sebenernya waktunya bersamaan dengan tawaran promosi untuk posisi yang lebih tinggi. Terpaksa aku tinggal. Tapi aku yakin ini semua demi untuk mendapatkan sesuatu yang baru, pengalaman yang baru, dan mungkin juga untuk sesuatu yang berharga.

Gimana rasanya? Sakit? Iya. Sedih? Iya. Hampa? Iya. Menyesal? Hmm, insya Alloh enggak. Rasanya campur aduk pokoknya, dan ini adalah perngalaman pertama aku resign dari suatu perusahaan. Bukan karena pekerjaan atau perusahaan yang aku tinggalkan sebenernya yang bikin rasanya jadi gimana gitu, tapi lebih dari itu, kebersamaaan, kekeluargaan dan persahabatan yang terbentuk di sini, berasa sudah maksimal.

Tapi ini adalah sebuah keputusan yang sudah final, harus aku jalani, harus aku ambil karena sudah aku pilih. Dan di bawah ini adalah farewell letter yang aku kirim via email ke semua rekan kerja, baik rekan internal perusahaan maupun partner kerja external, kali aja bisa buat contoh pas kalian-kalian nanti mau resign, hehe.


Maaf, di persimpangan ini ijinkan saya untuk memilih jalan saya sendiri.

Assalaamu ‘alaikum,
Selamat sore.

Bapak/Ibu atasan yang terhormat.
Seluruh rekan kerja yang membanggakan.

Sudah beberapa kali selama saya di sini, saya berkesempatan untuk membaca farewell letter seperti ini dari teman-teman yang lebih dahulu “lulus” dari “kampus” besar ini, kini sudah waktunya menjadi giliran saya untuk menulis.

Seperti mungkin sudah banyak yang mengetahui sebelumnya, atas dasar pertimbangan yang bersifat pribadi, saya cukupkan masa kerja saya di perusahaan ini sampai di sini. Sama sekali bukan hal yang mudah bagi saya untuk sampai pada keputusan besar yang telah saya ambil ini.

Tentu saja, saya tidak akan pernah lupa sekurus dan sepolos apa saya pada saat memulai menjalani masa kerja di perusahaan ini pada Juni 2008 lalu, di Bandung. Dan pada periode ini, akhir Desember 2016 adalah akhir dari petualangan perjalanan delapan tahun lebih saya di PT. Indosat. Delapan tahun ini akan menjadi bagian dari hidup saya selamanya, akan menjadi sebuah cerita dan tidak akan terlupakan. Saya akan tinggalkan perusahaan ini dengan kepala tegak, dengan penuh harapan semoga kehadiran saya di perusahaan ini telah memberikan yang terbaik dan kontribusi positif pada setiap divisi dan fungsi yang pernah saya tempati.

Merupakan sebuah kehormatan yang besar bagi saya pernah diberikan kesempatan untuk bergabung dengan perusahaan yang luar biasa ini. Sebuah kesempatan untuk mengembangkan diri sehingga saya bisa menjadi saya yang seperti saat ini.

Maka, pada kesempatan ini perkenankan saya untuk mengucapkan banyak terima kasih atas semua kesempatan, bantuan, kerja sama dan hubungan baik yang telah terbina selama ini.

Ucapan terima kasih secara khusus saya sampaikan kepada segenap atasan dan karyawan PT. Indosat regional Jawa Barat. Bpk. Dadang Handayana, Bpk. Mohamad Hidayat, Bpk. Agus Krisbudiantoro, Bpk. Andriansyah Al-Alifi. Juga kepada Bpk. Hartadi, Bpk. Rahmat Ali Purnomo, Bpk. Dudi Rahmat, Bpk. Unang Satya Graha, Bpk. Endang Nuryadi, Bpk. Dwi Prasetyo, Ibu Irni, Bpk. Andi Karmana, dan seluruh atasan serta karyawan lainnya yang selama ini sedikit/banyak berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan saya, yang namanya tentu tidak dapat saya sebutkan satu persatu di sini. Terima kasih semuanya atas kesempatan, ilmu pengetahuan, pengalaman, nasehat, pelajaran hidup dan kebersamaan yang terjalin selama ini.

Teristimewa, kepada seluruh rekan Plumboners, sepaket dengan Driver, OB, Security dan Key Management. Juga rekan MSF, MSM, Midi, Core, OSS dan kepada seluruh kawan pejuang yang saya kenal dan mengenal saya di manapun -- WJ, CJ maupun EJ --. Terima kasih atas kebersamaan dan persahabatan yang sangat baik selama ini. Kalian, dengan cara masing-masing telah memberi warna dan makna khusus dalam keseharian saya. Saya benar-benar bersyukur pernah berada di antara rekan-rekan semua.

Dengan sangat spesial, terima kasih kepada Mang Omo, Wa Ali dan Lisanan yang telah mengantarkan saya menuju puncak tertinggi Jawa Barat. Sebuah farewell hiking yang menjadi seremoni perpisahan terencana yang begitu apik, mengesankan dan begitu membekas. Kalian luar biasa.

Juga kepada rekan-rekan vendor baik dari ALU maupun Huawei, berikut dengan subcont-nya yang selama ini pernah berinteraksi dengan saya, yang selama ini selalu saya repotkan dengan pertanyaan-pertanyaan saya. Terima kasih banyak atas ilmu dan kesediaan-nya selama ini meladeni banyak pertanyaan dan kecerewetan saya.

Dalam kesempatan ini, tak lupa saya juga manyampaikan maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf dan salah yang pernah saya lakukan dalam berinteraksi selama ini dengan Bapak, Ibu dan rekan-rekan semua. Maaf apabila ada sikap, tutur kata maupun pemikiran saya yang tidak berkenan di hati rekan-rekan semua, baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, baik yang tak terlihat maupun yang terang-terangan. Saya mohon ikhlas dan ridlo-nya.

Bagaimanapun, PT. Indosat adalah perusahaan pertama dalam karir saya, sehingga perusahaan ini dan semua orang-orang di dalamnya akan selalu istimewa bagi saya, akan selalu memberikan kenangan dan pengalaman berharga bagi saya.

Akhirnya, saya harus pamit. Selamat tinggal, saya akan pergi menuju suatu tempat yang baru untuk mencari dan menggapai sesuatu yang baru. Semoga Alloh selalu memberkahi dan memberikan kebahagiaan kepada kita. Sukses buat kita semua, sukses buat setiap pilihan yang kita ambil. Semoga kebaikan selalu menyertai perjalanan hidup kita. Amin.

In my life, I learned how to love, to smile, to forgive, to be happy, to be strong, to work hard and to be faithful. But I couldn’t learn how to stop remember you and this place. 

New year, new day, new date, new page, new chapter, new story, new place, new wishes. Many thanks, sorry, and keep contact.

|| f: reza.zk || t: @rezazk || iG: @rz.rezazakaria ||


Dan begitu email yang berisi surat pamitan itu terkirim, gak lama, datang bertubi-tubi balesan email dari beberapa rekan kerja, atasan, semuanya. Gak cuman via email, ada yang langsung menghubungi via telepon maupun WA, beberapa tampak shock dan gak percaya dengan keputusan yang aku ambil ini. Hmm, keputusan ini memang aku ambil mendadak, cuman temen-temen dekat saja yang tau karena sering aku curhati jauh-jauh hari sebelumnya.

Berikut ini adalah beberapa balesan email dari beberapa temen yang aku tulis di sini.

Agus Krisbudiantoro menulis:
Selamat jalan saudaraku….hik hik hik.

Hadi Suharwanto menulis:
Good luck kang Reza. Semoga tempat baru nya lebih baik dari yg sebelumnya. Amin..

Rudi Rustandi menulis:
Selamat & SUKSES terus Mas Reza..
Mohon mf klo selama interaksi ada salah-salah kata.

Endang Nuryadi menulis:
Wa’alaikumsalam WrWb …
Bang Reza ,
Always success  yaa..
Keep semangat ..terima kasih bantuan photonya kemarin …
Mohon maaf dari saya  jikalau ada dusta diantara kita.

Brian Akbar Syahputra menulis:
Xtra Xad , Selamat Jalan Mas Reza..terimakasih ilmu-ilmu nya sudah sangat bermanfaat bagi saya Pribadi.

Windarwanto menulis:
Selamat ya Zaa... Akhirnya lulus n smoga sukses selalu... Maaf jg klo selama ini ada salah2 kata.. 
#nunggugiliranlulus

Dedi Yoszar menulis:
Haduhhh pak Haji…mau kemana???

Deni Sopiana menulis:
Semoga sukses Kang Reza dimanapun berada ... aamiin yra.

Bunyamin menulis:
sukses selalu kang, jangan lupa kalau ke crbn mampir ke rumah kang?...

Titi Sari menulis:
Goodluck pak Reza…semoga semakin sukses dan berkah di tempat barunya, ciayoooo ^.^

Kharismaniar menulis:
Farewell letter seorang blogger..
Sukses terus Mas.. selamat menekuni lebih dalam hobi sebagai pecinta telolet bis mania.

Dewi Wulandari menulis:
Selamat berjuang di tempat yang baru mas reza.... semoga menjadi lebih baik, sukses dan barokah. Sayonara...hiks hiks....

Doni Purnama menulis:
Waalaikum salam,
Sukses selalu Mas Reza, mohon maaf jika ada bercanda yang kelewatan hehe,
Semoga selalu terjalin sila turahmi yah :D

Dudi Rachmat menulis:
Suksess, kang Reza.
Mohon maaf saya pribadi banyak kesalahan, jangan diingat yg rafting di Banjarnegara, ya....... 
Nuhun pisan.

Jaka Taurus menulis:
Selamat & Sukses ya kang di tempat baru...
Dan terima kasih utk bantuannya H-1 idul Adha 2012 pas mobil saya trouble....

Hartadi menulis:
Terima kasih yah atas kiprahnya selama ini di Indosat.
Mohon maaf kalo ada yg kurang berkenan.
Always sukses.
nhn.

Meianto Dwi Nugroho menulis:
Selamat jalan dan sukses selalu mas Reza.
Mohon maaf bila ada salah dan kurang berkenan.
Terima kasih buat sharing dan troubleshoot interference di Haurgeulis.. 

Muhamad Tirta menulis:
Wa'alaikumusalam,
Nupis kang, sukses selalu dan tetap jalin silahturahim...

Fauwzy Saied menulis:
gut lak brader. maaf2 bila ada slah dan khilaf kata dan perbuatan. 

Alfian Firdaus menulis:
Suskes terus mas reza , terimakasih ilmu ilmu yang sudah disharekan mudah*han bisa berjumpa dikursi yang berbeda hihihi.

Ryan Kusdinar menulis:
Wa'alaikumsalam mas reza 
Mohon maaf sebelum nya kalau ada salah2 dari saya, suka gangguin telp malem2 atau sekedar curhat2 buat nemenin shift.
semoga di tempat yang baru dimanapun itu mas reza sukses dan tetap jalin silaturahim.. amin amin..
Salam.

Farid Wicaksono menulis:
Selamat jalan my bro , semoga di tempat yg baru lebih baik ....

Irni Yusnita Suryani menulis:
Mas Reza,
Terima kasih supportnya ya & mohon maaf apabila ada kesalahan dalam kita berinteraksi.
Sukses & berkah selalu buat Mas Reza….
Keep Silaturrahim ya…apalagi kalo nikah jangan lupa undang2 ya hehehhe. 
Hatur nuhun…

Agus Michael menulis:
Happy walk my smells good water friend..
Terjemahan bebas dari;
Selamat jalan teman banyuwangi saya..

Mohamad Hidayat menulis:
Good luck Mas, semoga Allah selalu membarokahi segala upaya serta ikhtiar Mas reza untuk bisa melangkah lebih maju dan sukses.
Sukses disini sukses di mata Allah baik di dunia dan di akherat.
Jangan lupakan Kami yang di Indosat keep contact dan silahturahmi, jangan sungkan untuk Call/WA atau SMS jika perlu atau mampir ke rumah kalau pas lagi main ke Bandung (Cimahi) karena saya sudah menganggap Mas Reza seperti adik saya sendiri…
Mohon dimaafkan jika dalam berinteraksi saya banyak/ada khilaf dan salah-salah kata, dan terima kasih atas support dan kerjasamanya selama ini.
Sekali lagi sukses ya Mas, dan jangan lupa undangan pernikahannya…… mudah-mudahan kami ada waktu dan umur juga kesehatan untuk bisa menghadirinya!
Terima kasih, Wassalam//

Unang Satya Graha menulis:
mas Reza …
Terimakasih atas semua kebersamaan kita semua saat masih di Bandung, hingga lanjut di Plumbon Cirebon.
Mohon maaf untuk semua hal yg mungkin tidak berkenan selama ini.
Selamat melanjutkan perjalanan selanjut nya, sukses selalu buat m Reza sekeliuarga. Amien

Angling Budi Darma menulis:
Mas Reza,
Miss u… mudah2xan bisa ktemuan lagi.
Trims.

Sapii menulis:
Sy baca nya sampe merinding mas.
Gk kuat mata untuk tdk berkaca_kaca.
Semoga sukses mas dan lancar jaya...


Hmm, begitulah, semoga keputusan ini menjadi sebuah keputusan yang baik, keputusan yang menjadi awal dari semua kebaikan dan keberkahan. Paling gak, ini adalah sebuah pengalaman dari sebuah perjalanan hidup yang sangat berharga.

Friday, September 23, 2016

mudik lebaran 2016 (2/2)

. . . .

Jalanan udah rame banget karena udah mulai masuk arus balik. Gas gak bisa aku putar maksimal, tapi paling gak aku masih bisa selip sana-sini, gas-rem, gas-rem. Sesekali overtake beberapa kendaraan kalau memungkinkan, sesekali juga dari kiri, khusus yang terakhir ini gak usah ditiru, bahaya.

Jalur yang kami lewati masih sama dengan jalur saat berangkat, hanya tinggal dibalik berlawanan arah saja. Arus balik baik arah Timur maupun arah Barat sama-sama padat. Terik matahari membuat aku harus ekstra konsen di tengah ribuan pengguna jalan lain. Banter nguber opo, alon ngenteni sopo, hehe.

Tidak ada yang menarik di perjalanan kali ini, bahkan sama sekali kami gak ambil istirahat, walapun kayaknya badan jauh lebih capek daripada  pas ke Banyuwangi-nya dulu. Mungkin karena panas dan lebih macet aja jalanannya.

Kami berhenti di sebuah SPBU di daerah Mayang. Isi Pertamax full tank karena fuelmeter udah di bar merah dari tadi. Di sini sekalian aku janjian sama Febrian Krisyanda aka Bibi, temen jaman STM dulu di Malang, aku bilang kalo aku mau mampir rumahnya, sekalian tamu-tamuan lebaran, hehe.

---

Sekitaran jam 16.00 aku udah sampe di depan gang rumah Bibi, walaupun berasa lambat, tapi 2 jam masih keuber juga untuk jarak Banyuwangi-Jember, not bad. Fira terpaksa melanjutkan perjalanan ke kos nya sendirian, udah gak terlalu jauh juga kok dari gang rumah Bibi ini.

Ini adalah pertemuan pertama aku dengan Bibi sejak lulus tahun 2008 silam, hehe. Dulu kami lumayan deket, sering beli makan malem bareng, juga sama Nanda. Kalo aja ada Nanda sore ini, pasti reuni kecil-kecilan ini jadi tambah rame.

Tamu-tamuan di rumah Bibi ini disambi dengan ngebakso bareng. Tukang bakso yang lewat depan rumah kami panggil. Adheknya Bibi juga ikut ngebakso bareng kami, cuman dia makannya di ruang keluarga, sedangkan kami berdua makan sambil ngobrol ngalor ngidul di ruang tamu.

---

Karena udah mendung dan udah mau magrib, akhirnya aku pamit pulang. Bibi nganterin aku sampe ke Terminal Tawangalun. Aku minta buat diturunin di pintu keluar ajah, gak usah masuk terminal, biar enak milih bis-nya. Berharap masih ada Ladju Patas atau Patas apapun itu yang menuju Banyuwangi.

Pas banget, pas turun, langsung ada kubus raksasa keluar dari terminal, warna ijo. Aku langsung pamitan sama Bibi, gak lupa bilang makasih. Langsung aku tatap kubus ijo raksasa itu, ada tulisan Patas Jatim di kaca depan, cocok.

Kuberikan isyarat untuk ikut, kenek bukain pintu depan dan aku langsung lompat masuk. Wew ini Hino AK yang dimodif, keren, kotak blok mesin di depan jadi gak kelihatan karena dibuat sejajar dengan lantai yang membuat dasboard tampak sangat pendek.

Masih ada seat kosong di pinggir kaca di bagian kanan di baris agak belakang. Lumayan, satu seat di sebelahnya juga bisa aku kuasai karena gak ada penumpang lagi setelah aku naik, hehe.


Interior Sabar Indah Patas ini masih cukup bagus, cuman ada satu titik bocor aja di deket driver karena kebetulan pas itu lagi hujan gede banget. Perjalanan pulang ini banyak aku habisin buat tidur, tontonan tv yang disajikan juga gak begitu menarik menurutku, entah film apa yang diputar.

---

Udah sangat malem pas aku mendarat di Terminal Brawijaya, Banyuwangi. Tadi pas masih di jalan, Ummi kirim SMS bilang suruh ngabarin aja kalo ntar nyampe, biar dijemput sama Abi. Ah, tapi ini udah malem banget, sekitaran jam sepuluh lebih dikit. Biarin ah, aku jalan kaki ajah, toh jarak dari terminal ke rumah juga gak terlalu jauh, lagian mau sekalian nostalgia, nginget-nginget dulu pas jaman masih SD, tiap hari pulang-pergi aku tempuh jarak ini jalan kaki, hehe.

Nyampe rumah, orang-orang udah pada tidur, ya iyalah wong udah malem, hehe. Laper. Nengok ke meja makan, gak ada apa-apa, buka magicom udah abis nasinya, mau bikin mie kok ya males banget rasanya. Haha, nasib, nasib,,

---

3. BALIK KE BARAT

Kepulanganku mundur sehari dari jadwal yang seharusnya. Awalnya aku bakal balik ke Barat di hari Rabu, 14-07-2016 pake kereta api tujuan Malang. Ya, sebelum ke Cirebon, kali ini aku mau mampir Malang dulu, sekalian lebaran ke sodara-sodara di sana. Namun karena ada suatu hal yang harus aku beresin, kepulanganku mundur sehari jadi Kamis, 15-07-2016 pake bus. Terpaksa harus buang tiket kereta yang udah kadung dibeli.

Malam itu, jam sembilan, aku dianter Abi ke terminal, tapi gak masuk, hanya sampe di pintu keluar bus ajah sesuai permintaanku. Ngapain juga nunggu di terminal, bus nya juga masih ngetem. Aku masih sempet ke Indomaret sebentar beli ini-itu. Sambil nunggu ada bus yang keluar, aku ngobrol banyak sama Abi, heart to heart lah, hehe.

Gak lama, keluarlah armada CWM ekonomi, udah gak ada Patas jam segini. Entah gimana predikat bus ini, aku belom pernah nyoba, padahal aku berharap masih ada Mila atau Akas. Langsung aku salami Abi, cipika-cipiki, dan langsung masuk ke dalam kabin bus lewat pintu depan yang emang terbuka. Masih ada hot seat di bangku depan sebelah kanan pinggir lorong. Malam itu penumpang sepi, hanya ada beberapa orang aja yang ikut bus ini.

Di sebelahku ada seorang cowok yang ternyata bakal turun di Kalibaru, sedangkan di seat sebelah kiri, ada seorang ibu sama anaknya, mau turun di Srono katanya mereka. Loh kok jarak pendek semua?

Bus jalan pelan. Seperti halnya bus ekonomi lainnya yang jamak menggunakan mesin depan, ada pemandangan biasa di bagian depan sebelah seat driver, blok mesin yang disulap untuk bisa difungsikan sebagai seat tambahan di saat peak session.  Namun ada yang menarik dari CWM ini. Bus ini menggunakan mesin Nissan Diesel atau yang biasa dikenal dengan UD, wuih udah kayak truk-truk pantura ajah, hehe. Ini untuk pertama kalinya aku naik CWM dan untuk pertama kalinya juga aku naik UD.


Jam 21.44, CWM nyampe di Srono, mau ngetem rupanya dia di sini. Ibu-ibu yang duduk di hot seat sebelah kiri turun. Aku pindah ke tempat duduknya. Gak lama ternyata ngetemnya, bus kembali jalan, sangat membosankan, gak ada garang-garangnya ini bus,

---

Jum’at dini hari, 1.44. CWM masuk ke terminal Tawangalun, Jember. Bus arah Malang baik Patas maupun Ekonomi masih belom ada jam segini. So, solusinya adalah ikut armada tujuan Surabaya dulu sampe Probolinggo. Incaranku adalah armada Patas, biar bisa istirahat, maklum kalo di bus Ekonomi riskan banget kalo ditinggal tidur, apalagi malem-malem gini.

Ada Akas Asri yang lagi parkir nunggu jam di jalur Patas, kelihatan udah sangat tua dan berumur. Tak apalah, daripada harus nunggu armada belakangnya yang belum tentu apa dan bagaimana bentuknya, hehe.


Aku naik saja, dan yampun kosong melompong. Tapi gapapalah, naik ajah, duduk di seat paling depan sebelah kiri. Kulihat di parkir jalur Surabaya Ekonomi ada armada AC Tarif Biasa yang entah dari PO apa, gak begitu jelas.

Akhirnya, karena udah jam-nya, Akas Asri Patas ini pun berangkat. Isinya? Hanya tiga penumpang termasuk aku, entah gimana itung-itungan solarnya, aku gak tau bakal balik modal apa gak. Yang menarik dari armada ini, kondekturnya adalah seorang wanita, iya, seorang ibuk-ibuk, keren.
Mesin Mercedes Benz OH 1521 Intercooler yang didepak sebagai dapur pacu armada ini masih sangat agresif. Kuler ini masih mampu meladeni nafsu driver yang menginjak pedal gas dalam-dalam. Beberapa kali berhenti untuk menaikkan penumpang, gak papalah, Patas rasa ekonomi, berhenti-berhenti, hehe.

---

Nyampe juga di Bayuangga, Terminal bus antar kota di Probolinggo. Entah jam berapa pas itu. Sepi banget di sini, gak ada bus satu pun, ada sih beberapa bus yang lagi perpal, tapi bus yang lagi on fire ya cuman armada yang lagi aku naiki iki. Armada tujuan Malang juga masih belom ada.

Yaudahlah, mending ikut ke Surabaya aja dulu daripada harus turun di sini nungguin bus arah Malang, mending on board sampe Bungurasih, nanti disambung arah Malang, hehe. Asyik juga. Ku perpanjang tiketku yang aslinya cuman sampe Probolinggo, aku bilang mau ikut sampe Surabaya ke Ibu Kondektur, nambah ongkos lagi.

---

Nyampe Bungurasih masih gelap, masih nututi buat Shubuh di terminal ini. Bungurasih udah berbenah, udah apik banget sekarang. Jauh lebih tertata dan manusiawi. Di ruang tunggu penumpang aku incar armada Patas tujuan Malang, moga dapet bis anyar apapun itu PO nya, aku mau jajal. Namun satu bus berangkat, disusul satu bus lagi di belakangnya berangkat, masih belum ada tanda-tanda ada bus bagus arah Malang. Akhirnya, yaudahlah aku menyerah, kuarahkan kakiku melangkah menuju armada HAZ Patas yang juga udah agak tua, entah bermesin apa dengan baju Panorama3 by Laksana.


Aku duduk di deretan tengah kabin di sisi sebelah kiri dekat kaca, kunikmati etape terakhirku menuju Malang ini diiringi sinar lembut mentari pagi yang menyapa bumi Jawa Timur kala itu. Suasana kabin bus yang tidak begitu ramai oleh penumpang membuatku bisa bener-bener rileks setelah semalaman menempuh jarak ratusan kilo yang belum juga berakhir. Kusandarkan badan, hempas di sandaran kursi yang aku rebahkan demi mengejar nyaman.

---

Hari ini, Sabtu, 16 Juli 2016 adalah hari kepulanganku yang sebenarnya dari Malang menuju Cirebon. Sengaja berangkat Sabtu, bukan hari Minggu kayak biasanya biar bisa istirahat dulu sebelum ntar Senin-nya masuk kantor.

Armada apa yang aku pilih buat ngaspal Pantura kali ini? Yes, aku pilih Gunung Harta yang semoga aja armadanya sesuai dengan harapan. Sudah keempat kalinya aku berburu SHD Gunung Harta, namun keempat-empatnya meleset, bahkan sampai pernah dapet Hino RG rebody. Jadi ini adalah usaha kelima kalinya buat dapetin SHD ini.


Tiket udah kubayar lunas di hari pemesanan tanggal 27 Juni yang lalu dengan harga yang fantastis, tuslah lebaran, sesuai dengan yang ada di gambar di atas. Namun sayang banget tuslahnya harus ditulis manual dengan tangan dan diparaf oleh management, kenapa gak dicetak sekalian harganya?

Sengaja juga aku pilih Bogor sebagai tujuan akhir pas ditanya sama mbak-mbak GH pas aku pesen by phone waktu itu, kali aja dengan milih Bogor aku bisa dapetin armada yang emang diidam-idamkan.

---

Jam 11.50 siang aku udah standby ajah di kantor GH di daerah Pattimura, udah rame banget keadaan kantor pas siang itu. Lapor ke mbak-mbak bagian tiket dan dianya bilang kalo bis aku ada di belakang, bis dengan label angka-1 di kaca depan, katanya.

Memang udah ada dua unit armada GH yang disiapkan di garasi samping kantor, satu unit GH 118 bermesin Scania K360 berbaju NewSetra JetbusHD2+ dengan label trayek Malang-Jakarta di kaca bagian depan. Satu unit lagi adalah GH 120, armada bermesin Mercedes Benz O500R 1836 dengan balutan body NewSetra JetBus2+ SHD by AdiPutro, armada dengan label angka-1 di kaca depan.

Terima kasih gustiii, ini adalah armada yang aku idam-idamkan selama ini, setelah percobaan yang keempat kalinya dan baru berhasil di usaha yang kelima ini. Gapapa gak Scania juga, 0500R 1836 juga chassis dengan tenaga besar, sama-sama 360 HP. Ini akan menjadi MB O500R 1836 pertama yang aku naiki, juga armada SHD pertama yang kujajal. Ternyata keywordnya adalah harus pesen yang tujuan Bogor, hehe.


Sekilas tentang armada ini, bener-bener keren. Interrior dan eksterrior terlihat mantap, ya iyalah armada masih baru, hehe. Body SHD memang begitu gagah mau dilihat dari sisi sebelah mana juga, apalagi dari depan yang tampak garang. Interriornya juga, dengan seat Aldilla yang ekstra nyaman dan deck yang super tinggi, penumpang akan ngerasa amat nyaman dan begitu dimanjakan. Tapi ada satu hal yang menurut pendapat pribadiku cukup mengganggu, adanya topi yang menjadi ciri khas SHD. Topi atau sama beberapa orang juga dibilang bando ini ngalangin pemandangan kami para penumpang ke arah depan. Mau liat kaca bagian bawah topi, gak sempurna. Mau liat kaca yang bagian atas, kehalangan. Jadi emang bener, SHD ini didesain nyaman buat penggunanya, buat bobomania.

Tepat di jam 12.09 dua unit GH keluar garasi beriringan, GH 118 ada di depan, menyusul GH 120 yang aku naiki mengekor di belakangnya, berjalan perlahan menyusuri jalanan macet menuju terminal Arjosari. Goyangan suspensi udara armada ini benar-benar mantap, serasa diayun-ayun di bantal empuk yang lembut banget gitu lah, hehe.

Kalau dibilang jarak, dari Pattimura ke Arjosari itu deket banget, tapi ya inilah Malang yang udah semakin macet. Jam 12.35 kedua armada GH berbarengan masuk Arjosari, berhenti berdampingan di jalur keberangkatan bus malam, menjadi bus malam yang datang pertama di Arjosari hari itu.

Peminat GH ternyata banyak banget, sebagai satu-satunya armada bus malam dengan baju SHD, sontak itu membuat GH jadi artis di terminal. Apalagi tipikal penumpang Malang yang rewel terkait masalah armada, kudu bagus. Gak bagus ya gakan dipilih. Itu terbukti, di terminal ini semua seat menjadi nyaris penuh, sisa satu seat lagi di sebelahku, di seat 3b yang belakangan aku tau dari daftar manifest akan terisi nanti di Tuban.

---

Lama banget kedua GH ngetem di terminal. Entah mungkin bapak-bapak kru-nya makan siang dulu mungkin, sampai akhirnya di jam 13.37 bus pun berangkat. Masih berjalan beriringan kedua armada kakak beradik ini, kelihatan akurnya, hehe.

Snack pun dibagikan, isinya kelihatan mewah dengan dua buah roti, sebotol air mineral dan beberapa permen. Cukup lah daripada armada sebelah yang snack-nya minimalis.


Dan kembali, suspensi udara membuat penumpang terayun, belom lama jalan udah banyak peumpang yang tertidur, menikmati lembutnya buaian GH 120. Aku yang untuk sementara ini menguasai dua buah seat, makin nyaman ajah rasanya. Kalo ngeliat keadaan di luar melalui kaca samping, kelihatan banget kita lagi di atas, tinggi.

Kuisi perjalanan ini dengan main gadget, sambil sesekali ngelihat keadaan luar. Udara dingin dari louver AC membuat kenyamanan armada ini menjadi begitu sempurna.

---

Masuk ke rumah makan Taman Sari di daerah Tuban sekitaran jam 18:53. Udah banyak banget pasukan GH di sini, bercampur dengan pasukan Lorena. Aku segera menuju ke sebuah ruangan yang secara eksklusif disediakan bagi kami konsumen GH, ruangan ber-AC yang terpisah, service makan dilakukan di sini.

Malam itu menunya nasi putih, mie goreng, sup dengan komposisi lengkap, ayam goreng, tahu yang dipotong dadu seperti dibikin sambal goreng, lengkap dengan sebaskom sambal kecap. Lumayan.


Sengaja aku gak pake nasi, cukup mie goreng sebagai asupan karbo lengkap dengan lauk yang aku ambil. Rasanya? Lumayan lah, apalagi perut kosong banget belom makan dari siang.

---

Lepas rumah makan, seat di sebelahku kini terisi, seorang mas-mas yang kutaksir usianya sepantaran denganku, tujuan Bogor. Malam ini kunikmati jalanan pantura via kaca samping dengan buaian armada GH 120 yang begitu nyaman, juga chassis yang bertenaga besar. Sungguh kenyamanan ini tak terbeli, pengalaman ini tak kan tergadai.

Sampai akhirnya perjalanan ini harus aku akhiri di dalam tol Cipali keesokan harinya, karena aku harus turun di kota ini, Cirebon. Jalanan yang lumayan padat karena merupakan hari-hari akhir libur sekolah membuat GH harus berjalan sedikit tertatih di Pantura dan mendaratkanku di sini di jam 6.32 pagi. Kesiangan.

Terima kasih GH 120, terima kasih bapak-bapak kru, sudah mendaratkanku di tempat rantau ini dengan selamat. Sampai jumpa lagi di perjalanan berikutnya, suatu saat nanti.